otok Tewel: Iwan Akan Terus Eksis Jika Berkarya

Ada yang baru dalam penampilan Iwan Fals Band, hadirnya gitaris Totok Tewel menggantikan posisi Sonata, gitaris lama di band Iwan Fals yang hengkang untuk fokus di band miliknya sendiri.

Totok Tewel disamping dikenal rajin berimprovisasi dalam permainan gitarnya, juga dikenal sebagai seorang gitaris yang enerjik dan total. Simak saja penampilan perdananya menggawangi gitar, baik elektrik maupun akustik, di Konser Kemerdekan Iwan Fals pada 16/8 lalu.

Ibarat pemain sepak bola, Totok tidak hanya piawai bermain gitar. ‘Gerakan-gerakan tanpa gitarnya’ yang enerjik, tetap mengundang aplaus penonton hingga gelaran konser berakhir. Pendeknya, ada saja yang dilakukan Totok sepanjang gelaran konser di atas panggung.

Sebetulnya, wajah Totok Tewel, lelaki asal Malang yang lebih banyak disapa Tewel oleh fansnya ini, tidak sama sekali baru. Semenjak lama, Totok sering menjadi additional musician di band Iwan Fals. Disamping itu, Totok juga kerap tampak di berbagai pertunjukan Iwan Fals, meski sekedar bersilaturahmi.

Kiprah Totok mengenal dekat seorang Iwan Fals, sudah jauh terjadi semenjak Tour SWAMI I, di era 90-an. Masuknya Totok ke jajaran band Iwan Fals, bahkan diperkirakan akan menambah ”keras” suara gitar di band Iwan Fals, meski ditepis Totok. ”Tidak lah, biasa saja, kita bermusik mungkin akan diselaraskan dengan kemauan Mas Iwan. Apalagi saya juga bukan musisi rock,” urainya kepada iwanfals.co.id.

Khusus mengenai warna musik yang disukai Totok, iwanfals.co.id sempat memergoki Totok bahkan tertawa riang, sewaktu mengiringi ibu-ibu istri veteran di salah satu tembang jenaka. Ini juga yang mendukung pernyataan Totok, yang mengakui menyukai beragam jenis musik, baik itu keroncong, rock, atau apapun. ”Apa saja lah, saya tidak fanatik di satu jenis musik,” urainya.

Usai bergabungnya Totok di band Iwan Fals, lantas akan seperti apa warna band Iwan Fals sendiri, dia mengaku semuanya ‘mengalir’ saja. Sama sekali tidak tahu akan seperti apa penampilan band sesudah dia tampil. ”Apa adanya saja. Dan terlebih sudah ada slogan ‘Kita Bermusik Dengan Kejujuran' masing-masing,” urainya.

Dia mengaku enggan menyatakan, sebagian pemusik memang benar-benar mempengaruhi kondisi ataupun warna karya sebuah kelompok. Karena dalam bermusik, ketika sudah berkontribusi di kelompok, semua sudah atas nama tim. ”Yang terpenting bagiku, melakukan penyesuaian terhadap ketentuan di band, serta menyesuaikan diri terhadap kebutuhan musiknya,” urainya.

Sementara terkait kendala, menurutnya kemungkinan tidak ada. Terlebih, terhadap seluruh personil band Iwan Fals yang lain. ”Dengan personil Iwan, rasanya sudah cukup nyantel. Sudah tahu selanya masing-masing,” tambahnya.

Ditanya, terkait karya bermusik dari band sendiri, mudah-mudahan kedepannya tetap kompak dalam bermusik. Karena sebetulnya yang dibutuhkan oleh sebuah kelompok band, adalah kekompakan.

Disamping itu, selain kompak di dalam kelompok band masing-masing personil mesti ‘satu jiwa’, serta rukun di luar musik. Itu juga hal terpenting. Sebab dimisalkannya, jika saat berkumpul, lantas ada rasa tidak enak karena satu atau lain hal, pasti akan berpengaruh ke karya musik. ”Itulah yang jadi harapan saya,” tambahnya.

Totok mengaku pertama kali mengenal Iwan Fals, di Rock Kemanusiaan. Sementara, mengenal dekatnya, semenjak Tour SWAMI I sekitar tahun 90-an. Bahkan, semenjak di Rock Kemanusiaan, Iwan juga kerap bertandang ke rumah kostnya, demikian sebaliknya, sudah itu lantas Totok ditawari terlibat di Tour SWAMI.

Sementara, di musisi Iwan Fals, Totok mengaku kenal dekat dengan Edy Daromi (keyboard). Edy adalah rekannya semenjak dulu, ketika masih di ELPAMAS.

Harapan terkait lagu-lagu Iwan Fals, mudah-mudahan Iwan Fals nggak ‘kena’ penyakit malas berkarya. Sementara, ketika ditanya sebaiknya Iwan Fals banyak bermain di lagu bertema sosial atau cinta, menurutnya hal itu bukan porsinya untuk memberi penilaian.

Bahkan menurut Totok, dia mengaku hanya sebatas ‘bunyi’ saja. Jika ada kekurangan-kekurangan di musiknya, dia baru akan memberi masukan. Sementara, untuk sektor lirik, baginya hal tersebut bebas-bebas saja. ”Terserah Mas Iwan saja. Cenderung berkarya kedepannya pada lirik-lirik sosial kah, human interest, atau cinta,” tambah Totok seraya menambahkan, baginya lirik apa saja pasti disukai.

Sebagai seorang lokomotif di band Iwan Fals, musisi yang lainnya ibarat tinggal mengikuti saja. Sembari sesekali memberi masukan jika dibutuhkan. ”Yang lainnya ya mengikuti saja,” tambah lelaki Arema kelahiran 1958.

Sangat pentingnya dukungan fans terhadap musisi untuk melalui berbagai proses pendewasaan hingga mengantarkan ke tingkat kemapanan seorang pemusik dalam berkreasi, hingga tak salah jika dia berharap fans Iwan Fals dapat terus bertambah.

Apalagi menurutnya, jika musisi sudah semakin berumur, memang kecenderungannya fans akan berkurang. Meski kemungkinan itu bisa juga salah, bergantung lagi pada karya-karyanya, ”Kuncinya di Mas Iwan, mudah-mudahan tidak malas berkarya, karena sesungguhnya dengan karya juga bisa terus menambah fans,” tandasnya

Datangi Istana, Iwan Fals Ajak Jokowi Hadiri Konser "Nyanyian Raya"

 
Presiden Joko Widodo bertemu penyanyi Iwan Fals di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (27/2/2015). Pertemuan tersebut digelar atas permintaan Iwan.

Di dalam pertemuan sekitar 30 menit itu, Iwan mengaku berkonsultasi dengan Presiden soal rencananya menggelar konser akbar yang bertajuk "Nyanyian Raya". Konser ini awalnya akan digelar pada November 2014, tetapi ditunda.
"Saya ingin berkonsultasi tentang gagasan saya bagaimana mengumpulkan 4 juta orang untuk konser. Karena saya enggak tahu bagaimana tempat dan teknisnya, Pak Presiden-lah yang lebih tahu karena ini menyangkut banyak hal," kata Iwan kepada wartawan.
Dengan target 4 juta penonton itu, Iwan mengaku kesulitan mencari lokasi acara. Garuda Wisnu Kencana di Bali sempat menjadi pilihan, tetapi tetap saja tidak bisa menampung 4 juta penonton.
Kendati demikian, Iwan mengaku konser tetap harus dilaksanakan karena sudah bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Net TV yang akan menyiarkan konser itu. Konser itu akan mencetak rekor menyanyi lagu "Indonesia Raya" dengan peserta terbanyak.
Pria kelahiran 3 September 1961 itu belum bisa memastikan waktu pelaksanaan konser tersebut.
"Saya nyeletuk (kepada Presiden), hari kemerdekaan (17 Agustus 2015) asyik kali, ya," imbuhnya.
Selain itu, Iwan mengaku juga turut mengundang Presiden Jokowi untuk bisa hadir dalam konser tersebut.
"Alhamdulillah beliau merespons dan Pak Jokowi apakah bisa (hadir) apa enggak tentang itu," kata dia.
Iwan berharap melalui konser "Nyanyian Raya" publik diajak untuk berbuat hal positif seperti mulai memedulikan lingkungan dengan menanam pohon atau tidak membuang sampah sembarangan.

Menuju Konser Nyanyian Raya

Kisah Kerjasama Iwan Fals dan NET. Wujudkan Konser
BUKAN perkara mudah untuk mewujudkan konser untuk musisi legendaris seperti Iwan Fals.
Selain butuh biaya besar, tempat yang luas dan besar, juga menuntut tingkat keamanan yang ketat. Iwan beruntung, NET. akan mewujudkan impiannya memecahkan erkor.
"Memang tempat jadi persoalan tersendiri, mudah-mudahan NET. nanti punya panggung mengapung, hehehe," seloroh Iwan. "Ide sementara, konser akan dibikin di kawasan Kemayoran, Jakarta, dengan panggungnya di atas jembatan melintang, sehingga mengarah ke utara. Sudah saya cek, di sana luas sekali, lalu lintasnya kalau malam enggak terlalu ramai, dan saya rasa bisa menampung 2 juta penonton lebih," bilang CEO NET. Wishnutama ditemui belum lama ini.
Menyambut konser "Nyanyian Raya", NET. akan menggelar konser pendahuluan yang bertajuk "Suara Untuk Negeri" di empat kota: Medan, Bandung, Surabaya, dan Jakarta. "Empat konser itu untuk menuju konser 'Nyanyian Raya'. Setelah empat konser itu, saya mau mengumpulkan orang sebanyak mungkin untuk menyanyikan lagu 'Indonesia Raya' bersama-sama," bilang Iwan.
Wishnutama menjamin keamanan dan ketertiban selama konser berlangsung. "Kami sudah berkoordinasi dengan pihak keamanan untuk memastikan keamanannya. Fans Iwan Fals rusuh, itu, kan dulu. Sekarang sudah enggak, kan Mas?" tanya Wishnutama pada Iwan. "Sekarang sudah jadi om. Om itu artinya hati yang damai," jawab Iwan sambil tersenyum.
Dalam kurun sepuluh tahun terakhir, ia sudah tidak dibayangi kekhawatiran terjadinya kericuhan di setiap konsernya. "Penonton sudah punya kesadaran. Mereka datang buat menonton musik. Tahun kemarin, misalnya, tur beberapa kota, alhamdulillah, lancar semua. Oi (Orang Indonesia – sebutan untuk para penggemar Iwan) luar biasa. Mereka sangat membantu dalam menjaga ketertiban,” Iwan mengapresiasi Oi. “Kalau diatur dengan baik, saya yakin enggak akan rusuh," tambah Wishnutama yakin.
Ini bukan kali pertama Iwan bekerjasama dengan Wishnutama. Sebelumnya, Iwan juga tampil di acara Music Everywhere di NET..
"Saat mengobrol bersama Mas Tama, saya selalu membicarakan soal sampah, silaturahim, pohon, keindonesiaan yang beradab, dan keinginan untuk bikin sesuatu, apa saja bentuknya. Entah hanya kumpul bareng, ngopi bareng, atau nyanyi 'Indonesia Raya' bareng. Sampai saya menulis di akun Twitter saya bahwa saya butuh orang gila untuk mewujudkan impian itu. Akhirnya impian itu disambut Mas Tama. Ternyata dia orang gilanya, hahaha. Memang jodoh enggak ke mana," cerita Iwan disambut gelak tawa Wishnutama.
Penerima penghargaan Karya Bhakti Musik ini berharap, Presiden baru Indonesia nanti bersedia meluangkan waktu datang ke konser "Nyanyian Raya". "Saya berharap ada Presiden baru yang gaul. Tanda-tandanya ada, tapi mau enggak (dicalonkan), hahaha. Siapa pun Presiden nanti, mudah-mudahan mau datang untuk nyanyi bareng, kumpul bareng bersama kami semua,” kata Iwan yang menjadi inspirasi generasi muda.
"Pada saat ada Presiden baru tentu ada semangat baru. Rakyat tentu ingin lihat Presiden kayak apa. Semoga rekor dunia nanti terpecahkan," Wishnutama menambahkan.